Mendengar Bisikan Tuhan

Konon, dalam Genesis (kitab Kejadian) diceritakan bahwa ketika sarah sudah berusia 76 tahun dan suaminya Ibrahim berusia 80 tahun, Sarah yang belum berhasil memberikan keturunan kepada Ibrahim mengijinkan suaminya menikahi Hajar, budaknya asal mesir. Dari pernikahan inilah akhirnya lahir anak bernama Ismail. Namun dalam perjalanannya ternyata Sarah tidak mampu membendung rasa cemburunya karena sudah pasti perhatian Ibrahim lebih banyak tercurah kepada Ismail dan Hajar. Akhirnya sarah memohon kepada suaminya agar Hajar dan Ismail pergi dari rumahnya.

Permohonan itu pastinya membuat Ibrahim sedih dan galau. Dalam galaunya itu Ibrahim curhat kepada Tuhan, dan tuhan memberikan jawaban kepadanya untuk menuruti permintaan Sarah dan Tuhan berjanji akan memberkahi Ismail.

Itulah awal cerita yang membuat Hajar dan Ismail akhirnya di tinggal di padang tandus yang nantinya Ismail menciptakan mata air yang tidak akan kering sepanjang masa, zam zam. walopun sumur ini pernah dikubur dan disembunyikan keberadaannya oleh kaum Jurhum.

Pada suatu ketika kota mekkah dikelola oleh kaum Jurhum, namun karena kesewanang wenengannya dalam menjaga kabah yang sudah menjadi tujuan haji, akhirnya kaum Jurhum tersingkir. Namun sebelum meninggalkan kota mekkah, kaum Jurhum sempat mengubur zamzam beserta sebagian besar harta mereka.

Sumur zam zam itu seolah terlupakan oleh waktu, berabad abad lamanya sampai pada masa ketika kaum quraisy lah yang menguasai ka’bah. Kaum Quraisy ini dipimpin oleh seorang bijak bernama Abd al-Muththalib (Abdul Muthalib), yang mampu mengemban tugas dengan sangat baik. Ia menariki pajak kepada seluruh jamaah haji dan memberikan mereka makanan dan minuman dengan sangat baik.

Di sebelah barat laut ka’bah ada daerah kecil yang dikelilingi tembok pendek berbentuk setengah lingkaran yang kedua ujungnya berada di sudut sebelah barat dan utara ka’bah. Ruang yang dibatasi tembok ini disebut Hijr Ismail, karena terdapat bekas jempol kaki Ismail dan Hajar di situ.

Di Hijr tersebut Abd Al-Muththalib suka menggelar tikar dan berbaring. Suatu saat, beberapa malam berturut-turut ketika sedang tidur ia mendengar suara

“Galilah sumber air yang manis!”

“Galilah keberuntungan!”

“Galilah timbunan harta karun!”

“Galilah Zamzam!”

Abd Al-Muththalib mendapat pesan untuk menggali di tempat lembap penuh darah, penuh kotoran, tempat semut-semut bersarang. Tempat tersebut adalah tempat di antara dua bongkah batu dimana kaum quraisy biasanya menyembelih hewan qurban, dan benar saja akhirnya di situ ditemukanlah sumur zamzam setelah ratusan tahun terpendam.

cerita di atas cuma dua buah cerita yang saya jadikan contoh kali ini, dimana saya berpikir, enak banget ya menjadi seperti mereka. Menjadi seperti Ibrahim yang ketika galau dalam urusan  rumah tangga bisa curhat ke tuhan dan mendapat jawaban langsung dari tuhan. atau seperti abdul muthalib yang mendapat petunjuk dimanakah letak harta karun.

Tapi kalo dipikir pikir, kalo sekarang kamu berdoa sambil mencurahkan isi hatimu lalu tiba tiba ada suara yang menjawab curahan hatimu, seram juga kali ya?

Saya rasa tuhan maha adil, mungkin kita juga bisa mendapatkan jawaban langsung dari tuhan atas segala persoalan persoalan kita. Mungkin caranya yang berbeda. Boleh jawaban jawaban itu sudah datang ke kita cuma kita yang belum bisa mendengarkannya.

Sebagai seorang Islam dan seorang Jawa, saya selalu diajarkan untuk melihat pertanda. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang akan terjadi terhadap kita itu ada pertandanya. Dalam tradisi jawa banyak hal yang harus kita lakukan setelah niteni atau mengamati pertanda, begitu juga Islam. Dalam Islam, banyak pertanda yang datang kepada kita. Baligh, Kiamat, Kematian, dll pasti ada pertandanya dulu sebelum datang. Sungguh mulialah Imam Ghazali yang dapat membaca pertanda kematiannya sehingga ia menyiapkan kematiannya sendiri termasuk memakai kain kafan sendiri.

Pendeta Bahira-pun dapat mengenali Muhammad adalah calon nabi dari pertanda pertanda. Awan yang mengikuti, dahan pohon yang menunduk, dll. Bisa jadi sebenarnya jawaban tuhan kepada Ibrahim dan orang orang yang terdahulu juga berupa pertanda. Entahlah. Siapa yang tahu?

Mungkin pertanda adalah sesuatu yang mudah bagi orang orang yang mempunyai tingkat spiritualitas yang tinggi. Entahlah, lagi lagi Entahlah, karena aku cuma seorang brengsek yang masih banyak harus belajar. jreeeng kemudian mencari Genesis yang ada Phill Collins-nya . Bukan Gensis yang menceritakan Kejadian itu.

MasNino @arnodya

Juli 2013.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s