Penulis Sejarah dan Pemenang

Kalau kamu berpikirdan bertindak anti mainstream, niscaya kamu akan lebih mudah melakukan itukarena kamu ga punya saingan

Yups, seperti itulah. Contoh yang paling gampang adalah ketika lebaran dimana mana ramai, pom bensin dan atm pasti antri panjang. Tapi coba deh kamu ke pom bensin dan atm tengah malem, di saat orang lain tidur,pasti lebih ga ngantri. Termasuk ketika hari pertama libur lebaran, jalur mudikpasti langsung macet. Karena semua orang ingin segera tiba di kampung halaman.Kemarin aku mudik beberapa hari setelah hari libur, relatif lebih lancar.

Lebaran hari ke dua aku berada di kota Solo, dan main keKraton Surakarta. Kebetulan kraton sepi. Entah memang lebaran itu musimnyaorang orang silaturahmi ke saudaranya, tempat hiburan lain dan tempat belanja,atau memang berkunjung ke kraton dan museum itu sudah menjadi anti mainstream? Kalo di twitter pertanyaan terakhir itu mungkin harus aku kasih hashtag #TanyaSerius. heheu.

Walaupun lama tinggal di Jogja, dan suka menjelajah,ternyata aku jarang banget ke Solo. Beberapa kali memang pernah ke Solo tapi untuk sebuah acara, seperti ikut Yamaha Racing Academy di lapangan Goro Assalam, dan beberapa kali acara kampus, yang kalo ke Solo, begitu selesai acara langsung pulang. Pernah sekali lagi super gabut di Jogja, dan jam 12 malem iseng motoran ke Solo, cuma untuk makan nasi liwet di sekitaran Ngarsopuro habis itu pulang lagi dan jam 6 pagi udah tiba di Jogja lagi. Gapernah siang siang ke solo niat buat jalan jalan. Mungkin karena belom pernah punya bribikan cewe asal Solo kali ya? Atau mungkin punya tapi ga dapet. B)

Yang menarik, selama ini aku selalu mendapat cerita tentang kerajaan mataram sampai akhirnya pecah menjadi 4 itu cuma dari museum-museum dan orang-orang Jogja saja, begitu main ke Solo, aku mendapat banyak cerita yang berbeda dari pandangan orang Solo. Ya memang sih, sejarah itu tergantung siapa. Siapa yang menulis dan menceritakan. Apalagi kalo yang menceritakan orang orang yang sangat loyal terhadap kraton, pastinya mereka punya primordialisme yang agak tinggi.

Perbedaan cerita ga terlalu ekstrim sih, kaya misalnya di Solo diceritakan kalo Sultan Jogja itu cuma Sultan, bukan Raja. Rajanya tetap di Solo. Kalo di Solo sumber kebudayaan, di Jogja itu pusat kebudayaan dimana kebudayan itu dikembangkan. Tapi di Jogja, aku mendapat cerita kalo sebenernya Solo itu merasa bersalah akan pecahnya kerajaan mataram, sebagai hadiah hampir semua kebudayaan kerajaan mataram diberikan kepada Jogja.

Cerita lain yang agak sensitif adalah pertanyaan kenapa Pakubuwono XII tidak mengangkat permaisuri hingga akhirnya terjadi konflik di Solo yang menyebabkan adanya 2 raja, satu diangkat di luar, satu di dalam? Guide –ku di Solo menegaskan bahwa mereka hanya mengakui 1 raja dan tidak menganggap itu sebuah konflik karena raja yang diangkat diluar itu tidak dianggap raja. Guide yang juga merupakan abdi dalem itu juga mengatakan tidak tahukenapa PB12 tidak mengangkat permaisuri. Menurutnya PB12 punya alasan sendiri yang tidak diketahui orang lain. Tapi di salah satu museum di Jogja, aku diceritain bahwa PB 12 tidak mengangkat permaisuri karena ibunya (permaisuriPB11) tidak ingin kehilangan kekuasaannya atas kunci kaputren dan melarang PB12 untuk mengangkat permaisuri yang mana kalau PB12 mengangkat permaisuri, kunci kaputren harus diturunkan kepada permaisurinya itu.

Entahlah, aku bukan ahli sejarah dan tidak penting untuk menelusuri cerita mana yang lebih benar. Yang jelas, dari pengalamanku ini aku disadarkah bahwa sejarah benar-benar bergantung pada siapa yang menulis dan bercerita. Termasuk ketika ada sepasang kekasih yang ribut lalu berpisah, pasti kalo mereka bercerita akan menghasilkan dua cerita berbeda antara yang satu dengan yang lain. Mungkin itulah kenapa ada istilah ”Sejarah ditulis oleh pemenang”, karena pemenang akan lebih mudah untuk menulis dan menceritakan sejarahnya menurut versi dia.

Menurut Bambang Sumarley, jaman sekarang adalah jamannya “anybody can play a guitar”,termasuk setiap orang sekarang pasti bisa menulis.Era demokrasi ditambah majunya iptek menjadikan setiap manusia bukan hanya memiliki kanvas untuk lukisannya. Tapi juga memiliki galeri untuk memajang lukisannya.

Fenomena yang menarik adalah banyaknya pemilik media, apapun itu, yang ikut berlomba dalam kontes demokrasi yang sudah dekat ini. Menimbulkan pertanyaan baru buatku, jadi yang benar itu; “Jadilah pemenang agar bisa menulis”, atau “menulislah agar bisa menjadi pemenang?” Entahlah, mungkinkita harus bertanya sama Berlusconi. Atau mungkin sudah ada yang pernah tanya?

Mas Nino Agustus 2013

@arnodya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s