Angin Angin Modern

Kalo kamu punya hasrat bernyanyi, dimana biasanya kamu bernyanyi? Kamar mandi? Atau mungkin kamu mendatangi sebuah konser band kesukaan kamu untuk ikut bernyanyi? Itupun kalau kamu suka dengan band itu dan hafal dengan lagu lagunya. Lain cerita kalo kamu menonton konser cuma buat check in di path / 4sq, atau cuma buat twitpic foto tiket konsernya supaya kamu ga kalah eksis dengan teman teman dunia mayamu.

Di dalam sebuah konser, pastinya semua penonton yang antusias akan ikut bernyanyi. Pertanyaan selanjutnya, kalo si penonton yang punya hasrat untuk bernyanyi itu dikasih tempat di atas panggung, apakah ia akan bernyanyi? kalo ia merasa MAMPU dan BERANI untuk bernyanyi di atas panggung pasti dia akan bernyanyi di atas panggung. Jadi kalo ada orang yang bernyanyi di belakang kita, pilihannya cuma tiga, dia gak mampu, gak berani, atau memang nggak punya kesempatan bernyanyi di atas panggung.

Di negeri om Sam, ada hal menarik. Ternyata, pohon tertinggi di sana diberi nama General Sherman, tertinggi kedua diberi nama General Grant, dan yang ketiga diberi nama The President. Jadi, sebenernya Jendral sama Presiden itu tinggian mana? Hehehe.. Ehtapi ternyata General Grant itu nama presiden juga dan apalah arti sebuah nama, bukan?

Ternyata sebagai pohon pohon tertinggi di dunia, mereka sudah cukup berumur. Umur mereka diperkirakan sudah 2000-3000 Tahun. Ibarat manusia, mungkin pohon ini sudah sepuh. Konon, orang yang sudah sepuh itu sudah banyak makan asam garam, sehingga biasanya sudah bisa berbicara tentang kehidupan.

Ah, seandainya pohon pohon itu juga makan asam garam, mungkin pohon pohon itu juga akan bercerita tentang kehidupan berdasarkan sepengalaman mereka. Tentang terpaan angin yang semakin kencang menyerang mereka ketika mereka tumbuh semakin tinggi. Bukankah memang bagaimanapun kita tidak bisa memuaskan semua orang? Disetiap tidakan dan keputusan kita pasti ada Pro dan Kontra.

Kalo bicara masalah tentang Pro dan Kontra itu sebenarnya angin yang berhembus adalah angin konvensional yang memang sejak dahulu sudah ada. Namun kini, angin angin yang bertiupan sudah berevolusi karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan teknologi, angin angin yang berhembus menjadi lebih terlihat serta memungkinkan diciptakannya angin untuk membentuk citra peniupnya. Tinggal mau dicitrakan sebagai apa? Citra Pintar? Citra Suci? Jenaka? Apapun! Sepertinya semua bisa sekarang. Bertambah lagilah tempat kita bernyanyi kalo kita belom berkesempatan bernyanyi di atas panggung.

Karena lebih terlihat dan pada dasarnya kita sebagai manusia itu cenderung hebohan, angin angin itu jadi lebih mudah untuk memicu angin angin lainnya. Tambah heboh, tambah banyak angin baru yang lebih mudah terpancing dan begitu terus siklusnya. Sampai angin angin itu menemukan pohon baru yang terlihat mulai tinggi selanjutnya dan begitu terus terus dan terus.

Tapi dengan serangan bertubi tubi dari angin apakah membuat pohon pohon itu rapuh dan tumbang? Barangkali mereka malah senang dan tertama geli karena ternyata angin angin itu hanya menggelitik mereka, dan mereka memang sengaja membuat angin angin itu.

Waktu aku kecil dan masih suka meledek adekku sampe adekku marah marah, ibu bilang ke adek, “Dek, kalo kamu marah marah, mas malah seneng, udah diemin aja!” Nah kan! Bisa jadi pohon pohon itu malah senang dikelitikin sama angin angin itu.

Coba aja dicek, farhat abbas itu pasti cuma ketawa ketiwi pas buka tab mention twitternya dan semakin senang ketika semakin banyak yang menghujatnya. Coba aja dicek kalo ga percaya.

Mas Nino, Sep 13.

Di tengah derasnya arus lini masa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s